Pernah nggak sih, lo liat foto yang keliatan rusak—pecah-pecah, bentuknya nggak jelas, kayak error rendering—trus lo malah mikir, “Ini keren banget sih”?
Gue pernah. Awalnya gue bingung. Ini foto atau glitch? Tapi pas gue liat lebih lama, ada sesuatu yang bikin gue nggak bisa berhenti ngeliat. Kayak ada dunia di balik dunia yang lagi gagal di-load.
Di 2026, fotografer eksperimental mulai ninggalin “foto mulus” dan beralih ke estetika yang justru berantakan. Mereka pake LiDAR—teknologi yang biasanya buat pemetaan presisi—disalahgunakan buat bikin gambar yang kacau, terdistorsi, dan terasa hidup. Ini bukan cacat—ini the calculated glitch.
Dari Presisi ke Kekacauan: Kenapa LiDAR?
LiDAR (Light Detection and Ranging) itu sebenernya teknologi presisi. Dipake buat mobil otonom, pemetaan kota, atau scanning bangunan. Hasilnya berupa point clouds—kumpulan titik-titik 3D yang merepresentasikan posisi objek di ruang . Presisi banget. Tapi presisi ini, kalo “disalahgunakan” atau “diacak” di software kreatif, berubah jadi sesuatu yang jauh dari realitas .
Ini yang disebut LiDAR scan art. Data yang tadinya akurat, dikompresi, dipotong, di-render ulang, atau diglitch—hasilnya? Bentuk manusia jadi pecah-pecah, ruang jadi abstrak, perspektif jadi nggak stabil . Objek seperti “tersusun ulang” oleh error digital. Dan justru di situlah estetikanya .
Tapi ini bukan cuma soal “bikin keren.” Ini soal memperlihatkan apa yang biasanya nggak kelihatan. Peneliti di MIT bahkan ngembangin bounce-flash lidar—teknik yang bisa ngelihat objek di balik dinding dan sudut, dengan mengumpulkan pantulan cahaya dari berbagai arah . Iya, beneran. Teknologi ini bisa bikin lo “ngeliat” apa yang tersembunyi.
‘Sculpting with Time’: Menangkap Ruang yang Bergerak
Salah satu eksplorasi paling menarik datang dari eksperimen LiDAR yang disebut slitscanning . Teknik ini “mengekstrusi” pemindaian dua dimensi melalui waktu, menciptakan artefak temporal yang memperlihatkan interpretasi aneh tentang dunia yang kita tinggali .
Bayangin: lo taruh LiDAR di lorong, biarin jalan selama satu jam. Hasilnya? Bentuk-bentuk ular yang meliuk—itu adalah jalur orang yang lewat. Setiap “tubuh” yang terekam menghadap ke arah yang sama, karena apapun arah asal mereka, bagian pertama yang dipindai adalah wajah, lalu badan, lalu belakang kepala . Seperti kata eksperimentatornya: “We all walk forward in time” .
Hasilnya bukan foto orang—tapi jejak pergerakan. Ini bukan cuma dokumentasi, ini skulptur temporal. Dan artefak yang muncul—seperti “gelombang” dari goyangan langkah si pengambil gambar—justru jadi bagian dari keindahannya .
Seni ‘Memperlihatkan Keterbatasan’
LiDAR scan art juga merupakan cara buat memperlihatkan keterbatasan machine vision. Tom Milnes, seniman yang ngadain workshop Glitching the Machine Eye, bilang dia ingin “mengekspos distorsi, kelalaian, dan kegagalan yang melekat dalam visi mesin” . Workshop ini mengajak peserta untuk memindai objek transparan atau reflektif—yang sengaja sulit dipindai—dan melihat gimana mesin “gagal” menangkapnya .
Ini bukan cuma eksperimen visual. Ini perlawanan terhadap cara mesin melihat dunia. Dengan sengaja mendistorsi data, seniman “melawan” totalisasi, komersialisasi, dan kolonialisme digital yang melekat pada teknologi visual . Setiap glitch adalah pernyataan: “Visi mesin nggak sempurna. Dan justru di situ kita bisa main.”
Kasus Nyata: Dari Galeri sampai Instagram
1. “Framerate: Desert Pulse” – LiDAR Jadi Instalasi Multisensori
Di Desert Botanical Garden, ada pameran seni Framerate: Desert Pulse. Ini kolaborasi sama ScanLAB Projects, tim yang pioneering dalam seni pencitraan 3D. Mereka pasang kamera LiDAR di taman, ngerekam pertumbuhan dan aktivitas selama berjam-jam . Hasilnya? 14 layar gede di ruang pameran, masing-masing nunjukin sudut pandang berbeda dari subjek yang sama. Pengunjung sampe betah 24 menit nonton full loop—terpesona sama pemandangan gurun, lokasi konstruksi, dan air mengalir yang ditangkap dalam titik-titik 3D .
2. M-Kamera: Analog Rangefinder di iPhone Pakai LiDAR
Aplikasi iPhone M-Kamera pake LiDAR buat mensimulasikan fokus rangefinder klasik. Lo nggak bisa liat hasil foto sampe “roll film” lo habis—24 atau 36 frame. Kalo mau “cuci” roll lain, lo bayar $0.90-$1.29 . Ini menghidupkan kembali intentionality fotografi analog. Setiap frame berharga, dan LiDAR membantu lo fokus kayak pake kamera jadul .
3. “Broken Depth” – Instalasi Interaktif
Ada instalasi yang ngundang pengunjung untuk masuk ke dalam ruang hasil scan LiDAR. Saat lo bergerak, perspektif berubah, ruang bergeser, objek tampak glitch. Lo nggak cuma ngeliat seni—lo masuk ke dalam error itu sendiri . Ini pengalaman yang beneran imersif dan disorienting.
Data: Tren ini Bukan Iseng
- Penggunaan data scanning tools dalam seni generatif meningkat 39% di kalangan kreator visual urban .
- Ouster’s REV8 Color LiDAR—sensor yang nangkap warna dan kedalaman sekaligus—mulai dikirim ke Google dan Skydio. Ini disebut “camera-killer” karena nggak pake pixel grid, tapi point clouds .
- M-Kamera—aplikasi iPhone yang pake LiDAR buat simulasi analog—udah jadi perbincangan hangat di komunitas fotografi karena pendekatan “bayar per roll” yang radikal .
Panduan Praktis: Mulai ‘Ngacauin’ Data
Lo nggak perlu punya LiDAR $10.000. Coba ini dulu:
- Eksperimen sama Point Cloud dari Smartphone. Banyak HP udah punya sensor LiDAR (kayak iPhone Pro). Download app yang bisa ekspor data depth. Atau coba Krea.ai yang bisa generate gambar estetika LiDAR dari teks .
- Coba Slitscanning. Kalo lo punya akses ke sensor LiDAR (atau bahkan pake kamera biasa dengan gerakan lambat), coba teknik “extrusion temporal.” Ini tentang waktu, bukan cuma ruang .
- Ikuti Workshop “Glitching the Machine Eye”. Di KARST, ada workshop yang ngajarin cara “resistance terhadap machine vision” pake LiDAR .
- Jangan Takut Sama “Kegagalan”. LiDAR yang diglitch itu bukan “salah.” Itu data yang diinterpretasi ulang. Setiap distorsi adalah cerita .
Kesalahan Umum Soal LiDAR Scan Art
- Menganggap ini cuma “filter” atau “efek”. Bukan. Ini tentang data mentah—point cloud yang diolah, bukan filter yang ditimpain ke foto biasa.
- Mengabaikan dimensi temporal. LiDAR scan art yang keren seringkali tentang waktu, bukan cuma ruang. Slitscanning ngekstrusi momen jadi bentuk .
- Terlalu fokus pada “abstrak”. Beberapa karya LiDAR scan art emang abstrak. Tapi banyak juga yang literal—kayak potret glitch atau pemandangan gurun dari point clouds .
Kesimpulan: Glitch adalah Bahasa Baru
Di 2026, LiDAR scan art bukan cuma “foto keren.” Ini bahasa visual baru yang muncul dari pertemuan antara teknologi presisi dan ekspresi manusia. Ini tentang sengaja membuat data “rusak” buat memperlihatkan apa yang biasanya nggak kelihatan—waktu, gerakan, dan batasan mesin.
Seperti yang dibilang eksperimentator LiDAR: “In these representations there is a certain solitude—in the small stretches of driveways between two buildings or in the plot of ground beneath a tree—that doesn’t exist (at least for me) in the physical world” .
Ini bukan cuma seni. Ini cara baru ngelihat dunia. Dengan titik-titik, dengan error, dengan distorsi.
Dan di era di mana semua foto keliatan mulus, berantakan adalah bentuk keberanian.
